Maksimal tiga kata (contoh: sisik naga temurun)

18 August 2019

Penyebab Kematian Embrio Telur Ayam Pada Pertengahan Masa Penetasan


Penyebab kematian embrio telur ayam pada pertengahan masa penetasan - Dalam proses penetasan selama 21 hari dalam mesin tetas ataupun dalam eraman induk betina, embrio dalam telur seharusnya terus berkembang setiap hari sehingga jadilah seekor anak ayam. Tapi, pada pertengahan masa penetasan dalam inkubator ataupun eraman ada embrio yang mengalami kematian.

Berikut penyebab kematian embrio telur ayam dipertengahan masa penetasan:

 Penyebab kematian embrio telur ayam pada pertengahan masa penetasan

Penetasan telur ayam menggunakan indukan


Kematian embrio dapat terjadi karena pakan induk mengalami defisiensi zat gizi seperti vitamin dan mineral,

Induk terserang penyakit. Beberapa penyakit pada induk memang dapat diturunkan kepada anak anak ayam. Karena itu, pemberian vaksin harus dilakukan secara rutin 3bulan sekali.

Kadaan cuaca panas melebihi 39°selsius. Sebaiknya jika cuaca demikian, siram air dibawah petarangan atau dibawah tempat induk ayam mengeram pada siang hari agar suhu lembab. Sehingga calon anakan tidak dehidrasi dalam masa proses penetasan.


Baca juga


Penetasan telur ayam menggunakan inkubator

Telur tidak diangin angin kan sebelum diletakkan dalam mesin tetas. Telur adalah benda hidup yang mengalami metabolisme dan mengeluarkan panas. suhu ideal dalam penetasan telur ayam adalah 37°-38°selsius. Karena itu sebelum dimasukkan ke dalam mesin tetas, telur harus diangin-anginkan terlebih dahulu sekitar satu jam agar tidak terjadi perubahan suhu yang mendadak.

Suhu panas inkubator terlalu tinggi atau terlalu rendah. Suhu di ruang inkubasi tidak boleh lebih panas atau lebih dingin 2 derjat celcius dari ideal. Terlebih jika usia embrio masih sangat muda. Untuk itu sangat disarankan penggunaan thermometer untuk mengetahui suhu dalam ruang penetasan.

Telur tidak diputar. Telur yang tidak diputar atau dibalik karena kelalaian atau matinya sumber listrik jelas akan memengaruhi perataan sumber panas pada telur. Dampaknya, embrio tidak dapat tumbuh normal dan akhir nya mati.

Pada mesin tetas sederhana, ventilasi yang buruk bisa disebabkan lubang ventilasi yang kotor atau jumlahnya yang kurang. Karena itu, pelaku penetasan harus rajin membersihkan ventilasi.

Telur sebelumnya disimpan pada suhu di atas 30 derajat selsius. Telur yang berada di ruang bersuhu di atas 30 derjat selsius, bagian putih  telur nya akan segera encer sehingga tali pengikat kuning telur mudah putus. Untuk itu jangan menyimpan telur pada ruang yang tersinar cahaya matahari secara langsung.

Telur berumur lebih dari 5 hari sebelum di masukan dalam mesin tetas. Putih telur mudah encer jika setelah berumur 5 hari belum dimasukkan ke dalam mesin tetas.

kelembapan dalam ruang mesin tetas kurang tepat, terlalu tinggi atau terlalu rendah, Akibatnya telur gagal menetas. Kelembapan yang baik berkisar 60%, untuk itu diperlukan hygrometer untuk mengetahui kelembapan dalam mesin penetas.

Demikian artikel dari saya tentang penyebab kematian embrio telur ayam dipertengahan masa penetasan. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel diatas. Semoga bermanfaat dan salam satu hobi. Jangan lupa kunjungi juga http://bangkokterbaik.blogspot.com untuk membaca artikel menarik lainnya.

Add comments
Hide comments

No comments:

Post a Comment